Sabtu, 12 Oktober 2013

Raih Penghargaan, Malala Yousafzai Setara Mandela

Malala Yousafzai usai menerima penghargaan Anna Politkovskaya, RAW (Reach All Women) in War

Remaja asal Pakistan, Malala Yousafzai, meraih penghargaan tahunan bergengsi di bidang Hak Asasi Manusia (HAM), Sakharov Human Rights Prize. Penghargaan itu diberikan oleh Parlemen Eropa atas perjuangan Malala yang tak kenal lelah di bidang pendidikan. 
Kantor berita Reuters, Kamis 10 Oktober 2013 melansir remaja berusia 16 tahun berhasil sudah dianggap ikon bagi perempuan seusianya.  "Dia merupakan seorang ikon pemberani bagi semua remaja yang tak gentar untuk mengejar aspirasinya. Seperti sebuah lilin, Malala menyinari sebuah jalan dari kegelapan," kata Ketua sayap kanan, Partai Rakyat Eropa (EPP), Joseph Daul. 
Masih menurut Daul, masa depan akan semakin baik apabila terdapat banyak remaja seperti Malala. Malala telah menjadi simbol perjuangan terhadap hampir sebagian besar bentuk gerakan Islam radikal. Namanya meroket usai dirinya ditembak oleh kelompok Taliban. 
Kelompok tersebut mengincar Malala karena dia kerap menyuarakan hak pendidikan bagi kaum perempuan. Hati nurani Malala semakin terusik, ketika di tahun 2008 silam, pemimpin lokal Taliban, Mullah Fazlullah, mengeluarkan peringatan bahwa semua akses pendidikan terhadap perempuan harus dihentikan dalam waktu satu bulan. Apabila sekolah itu tidak patuh, maka mereka akan menanggung konsekuensinya. 

Tak terima dengan perintah itu, Malala mulai menyuarkan pendapatnya dalam sebuah blog yang diterbitkan oleh kantor berita BBC, berjudul: "Diary Seorang Gadis Sekolah Asal Pakistan" pada 18 Januari 2009. Di blog itu, Malala tidak menulis beberapa kali mengenai pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan.

Namun dia tidak mencantumkan identitasnya.

Kelompok Taliban yang khawatir terhadap besarnya perjuangan Malala, lantas menembaknya di kepala di atas bus sekolah pada 9 Oktober 2012. Dua orang teman sekolah Malala yang duduk di sampingnya ikut terluka dalam aksi percobaan pembunuhan itu.

Karena lukanya yang terhitung parah, Malala akhirnya dilarikan ke RS Ratu Elizabeth di Birmingham, Inggris pada 15 Oktober 2012. Nyawanya berhasil diselamatkan.

Hingga kini dia masih tinggal di Inggris, karena khawatir keselamatannya akan kembali terancam jika pulang ke Pakistan. Pasalnya kelompok Taliban kerap mengancam Malala, akan kembali membunuhnya jika dia berani menjejakkan kaki di Pakistan.

Ancaman turut dirasakan oleh kepala sekolah tempat dia dulu menuntut ilmu di Bukit Swat.

Nama Malala semakin meroket ketika dia menuangkan semua pengalaman memilukannya itu dalam sebuah buku berjudul: "Saya Malala". Reuters menyebut buku itu merupakan buku kedua yang laris terjual di situs amazon.com.

Sakharov Human Rights Prize dibeirkan oleh Parlemen Eropa setiap tahunnya sejak tahun 1988 silam. Tujuannya untuk mengenang perjuangan ilmuwan asal Uni Soviet, Andrei Sakharov.

Beberapa figur yang juga pernah menerima penghargaan ini antara lain penentang hak apartheid, Nelson Mandela, dan aktivis demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Nama Malala juga masuk ke dalam nominasi peraih Nobel Perdamaian yang akan diumumkan pada Jumat ini. Malala berhasil mengalahkan mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), Edward J. Snowden, sebagai nominasi untuk meraih Sakharov Human Rights Prize.

Nama Snowden bisa masuk karena dinominasikan oleh kelompok Hijau di parlemen. Snowden dianggap telah berjasa bagi masyarakat karena aksi beraninya mengungkap program penyadapan internet dan telepon oleh pemerintah AS. (sj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...